Menjaga Eksistensi dan Survivalitas Partai Golkar


0

Oleh  Akbar Tandjung

Karyantt.com – Salah  satu  penjelasan teoritis  yang  lazim  dalam   konteks keberadaan dan  keberlangsungan atau  eksistensi dan  survivalitas  partai  politik  adalah perspektif kekuatan kelembagaannya. Dalam studi disertasi saya pada jurusan  Ilmu Politik Sekolah  Pascasarjana Universitas  Gadjah Mada  (UGM) tentang pengalaman Partai  Golkar  pada masa  transisi  pasca Orde Baru (1999-2004), perspektif kelembagaan (institusionalisasi)  politik tersebut diterapkan  untuk  menjelaskan mengapa Partai  Golkar eksis dan  survive di tengah turbulensi politik. Kita tahu  bahwa situasi  kepolitikan  di  tanah air pada waktu  itu  sangat  dinamis. Golkar  yang kemudian setelah Munaslub 1998  dan  adanya UU Bidang  Politik yang baru menjadi Partai Golkar, berada dalam  situasi yang tidak mudah: banyak  tekanan yang  dilakukan  secara fisik, bahkan tuntutan  ke pengadilan agar  Partai  Golkar dibubarkan oleh  mereka yang  tidak  menginginkan Partai  Golkar  eksis dan  berkiprah dalam pembangunan bangsa di Era Reformasi.

Namun, kita bersyukur semua itu dapat dilalui,  dengan kekompakan yang  ada  di pusat dan  di daerah. Partai  Golkar mampu  bertahan sebagai partai  politik  terbesar kedua setelah PDIP pada pemilu  pertama kali Era Reformasi,  yakni pada 1999.  Pasca Pemilu   1999, kendati tekanan  terus   terjadi   di  mana-mana, tetapi segenap kader  Partai  Golkar mampu menunjukkan kinerja dan  prestasi elektoral yang  mengesankan, berpuncak pada kemenangan Partai  Golkar.  Dengan kata  lain,  pada Pemilu  2004, Partai  Golkar  mendapat posisi  teratas dalam   perolehan  suara. Pada  Pemilu  1999  tercatat Partai  Golkar  memperoleh dukungan 23,7 juta suara (22,4%) atau berada pada peringkat kedua (mem- peroleh 120 dari 550 kursi yang diperebutkan).  Selanjutnya pada Pemilu  2004  Partai  GOLKAR memperoleh dukungan   24,5  juta suara  (21,6%) atau  berada pada peringkat pertama (memperoleh 128 dari 560 kursi  yang diperebutkan).

Pada   Pemilu  2009  Partai  GOLKAR memperoleh  dukungan 15,0 juta suara  (14,5%) atau  berada pada peringkat kedua (memperoleh 106 dari 560 kursi  yang  diperebutkan). Kemudian, pada Pemilu  2014  Partai  GOLKAR memperoleh dukungan   18,4  juta suara (14,75%) atau  berada pada peringkat kedua (memperoleh 91 dari 560 kursi  yang  diperebutkan). Melihat  perolehan dukungan elektoral tersebut, yakni pada Pemilu 2009 dan Pemilu 2014, maka  prestasi elektoral Pemilu  2004  sebagai pemenang pemilu belum  pernah terjadi.

Saat ini kita merasakan bahwa tantangan elektoral Partai Golkar menghadapi Pemilu  2019  tidak  semakin  ringan,  namun  demikian peluang untuk memenangkan pemilu  tetap terbuka. Tentu saja hal ini membutuhkan kerja keras  segenap pengurus dan  kader Partai Golkar dalam  memenangkan pemilu.

Urgensi Penguatan Kelembagaan  Partai

Perspektif kelembagaan  dalam   studi  disertasi saya  yang  juga telah  dibukukan dengan  judul  The  Golkar  Way: Survival  Partai Golkar  Di Tengah Turbulensi   Politik  Era Transisi  (2007),  masih tetap penting untuk  kita  pahami dan  implementasikan  dalam rangka  membesarkan Partai  Golkar sebagai kekuatan politik nasional  yang  ditopang oleh  keberhasilan-keberhasilan  elektoral dan  prestasi di pemerintahan serta  lembaga perwakilan di pusat maupun di seluruh  daerah (provinsi dan kabupaten/kota). Secara ringkas  dapat saya jelaskan  bahwa perspektif kelembagaan atau institusionalisasi politik yang  diterapkan pada suatu  partai  politik merujuk  pada implementasi unsur-unsur pentingnya: (1) value infusion  (penanaman nilai-nilai  dasar   yang  diyakini  oleh  partai sebagai landasan perjuangan politiknya  ke seluruh  kader  partai); (2) systemness (pengelolaan organisasi partai  yang  dilakukan  secara  sistemik,  dimana seluruh  sistem  yang  ada,  apakah sistem keuangan, perkaderan, sistem pengambilan keputusan, atau sistem  lainnya,  berjalan dengan baik  selaras  dengan konstitusi partai).

Selanjutnya, (3) automomous decision (adanya  kemandirian atau  otonomi lembaga dalam  proses pengambilan keputusan, memastikan bahwa segenap  stake  holders (pemangku kepentingan)   memiliki  andil  dan   peran  yang   strategis  dalam   pros- es  demokrasi  internal   pengambilan  keputusan;  (4) reification (limpahan  dampak pencitraan positif  partai, ketika  partai  mampu menunjukkan kepada publik  bekerja secara optimal di parlemen dan pemerintahan, sehingga kepercayaan (trust) meningkat); dan yang tak kalah penting adalah (5) leadership (kepemimpinan, bagaimana partai  dikelola  dengan mindset kepemimpinan politik, bukan  yang  lain).

Apabila  direfleksikan dengan  konteks narasi  yang  tertuang dalam   buku  ini,  yakni  tentang  perkembangan,  dinamika, dan proyeksi  Partai  Golkar  di  Provinsi  Nusa  Tenggara Timur (NTT), maka  saya  yakin, manakala yang  diterapkan adalah penguatan kelembagaan  Partai   Golkar,  prospeknya  akan   semakin   cerah. Partai  Golkar di Provinsi NTT memiliki sumber daya  politik yang baik, para  pengurus dan  kader-kadernya memiliki komitmen dan konsistensi yang tinggi  dalam  berjuang dalam  kerangka nilai dan visi Partai  Golkar.  Militansi, kompetensi dan  integritas para  pengurus   dan  kader-kadernya tinggi,   serta  mampu bersaing dengan  partai-partai politik lainnya  dalam  rangka  kontestasi elektoral.  Tetapi,  tidak  semata-mata dalam  konteks elektoral, para kader  Partai Golkar NTT yang ada  di pemerintahan dan lembaga perwakilan  juga  mampu  menunjukkan kontribusi   nyata   dalam pembangunan daerah.

Apabila  ditilik kembali  narasi dalam  buku ini, maka ada  yang menarik untuk digarisbawahi bahwa, buku yang mengisahkan keberadaan dan keberlangsungan perjuangan Partai Golkar di NTT ini diinspirasi oleh pendapat yang menyatakan bahwa partai  politik merupakan institusi  akademik politik.  Hal ini, sesungguhnya selaras  semata dengan perspektif kelembagaan di atas,  bahwa institusionalisasi  partai   politik  otomatis  meniscayakan berkembangnya proses pembelajaran politik. Dalam rangka membangun kader-kader Partai Golkar yang  mumpuni, tentu dapat dipahami pula  manakala institusi  partai, sesungguhnya juga  institusi  pendidikan  politik yang nyata.  Para kader  partai, dalam  menghadapi atau  merespons  berbagai  masalah substansial dalam  dinamika dan  kehidupan politik di tingkat  lokal (daerah),  nasional, bahkan regional dan  internasional, memerlukan penguasaan  substansi masalah dan  ketajaman analisis,  dimana semua itu tumbuh dari tradisi  intelektualitas. Dalam  hal ini, partai  sebagai institusi  akademik  politik menemukan relevansinya.

Dari perspektif ini, Partai  Golkar  NTT dikenal  sebagai institusi  politik  yang  dirintis  dan  menghasilkan para  politisi  intelek- tual  yang  berkompeten dan  memiliki integritas yang  tinggi,  sehingga mampu mewarnai derap langkah pembangunan  daerah dan pembangunan nasional. Di sisi lain, selaras  dengan nilai-nilai Partai  Golkar  sebagai partai  yang  mewadahi segenap spektrum masyarakat Indonesia  yang  majemuk (plural),  Partai  Golkar  di NTT  juga   telah   membuktikan  kemampuannya  dalam   mewarnai  dinamika  masyarakat yang  multikultural  yang  ditandai oleh keanekaragaman.  Hal  tersebut  telah   menjadi  ciri  dan   karakter  yang  terus  terjaga sejak  terbentuknya  Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) pada 20 Oktober 1964,  dinamika kepolitikan Golkar pada masa  Orde Baru dan  Partai Golkar di Era Reformasi  dewasa ini.

Melihat  kiprah dan  perjuangan Partai  Golkar NTT yang  konsisten  dan  terus  terjaga proses perkaderannya, saya yakin Partai Golkar  akan  selalu  terus  mewarnai, bahkan memelopori proses- proses pembangunan. Saya  melihat  Partai  Golkar  NTT mampu mengandalkan kekuatan kelembagaannya dengan baik,  perjuangannya berbasis nilai-nilai kegolkaran yang  notabena juga nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai Pancasila, Bhinekka  Tunggal Ika dan  Negara Kesatuan Republik  Indonesia (NKRI). Partai  Golkar NTT juga  bekerja selaras  dengan sistem  yang  berjalan dengan baik  dan  profesional, mandiri,  demokratis, mampu menempatkan kader-kader terbaiknya di pemerintahan dan  lembaga perwakilan, adanya kepercayaan dari masyarakat yang terus  terjaga, dan  kepemimpinan politik yang  efektif.

Tantangan  semakin  kompleks

Namun   demikian,  tidak  berarti  semua  yang   saya  nilai  secara positif  di atas,  identik  dengan tidak  adanya persoalan atau  permasalahan krusial yang  terus  dihadapi oleh  Partai  Golkar  NTT atau   bahkan Partai  Golkar  secara  nasional. Tantangan  ke  depan  semakin  kompleks dan  menuntut respons yang  tepat dan berkualitas. Tantangan yang  dihadapi Partai  Golkar,  tentu bersifat  internal   dan  eksternal. Yang bersifat   internal, bagaimana para  pengurus dan  kader  Partai Golkar mampu untuk senantiasa berpartai dengan baik, kompak  atau  solid, dan  saling bersinergi membesarkan partai. Dengan kata lain, tantangan internal  Partai Golkar adalah memperkuat kelembagaan politiknya,  yakni memperkuat nilai-nilai perjuangannya ke segenap pengurus dan  kader,  memperkuat kesisteman, memperkuat kemandirian, mampu menunjukkan kepada publik  bahwa para  kader  partai  yang  ada di pemerintahan dan lembaga perwakilan mampu bekerja secara profesional dan benar-benar memperjuangkan aspirasi rakyat sehingga publik  semakin  percaya pada institusi Partai  Golkar,  dan juga memiliki pemimpin politik yang berkompeten, berintegritas dan  mampu mengelola partai  secara efektif.

Sementara itu, tantangan-tantangan eksternal yang dihadapi Partai  Golkar,  baik dalam  skala nasional  maupun dalam  lingkup Provinsi NTT, juga  tidak  semakin  ringan.  Dinamika  pembangunan nasional  dan  daerah, tentu dihadapkan pada sejumlah faktor yang  menyertainya. Pertama,  faktor  sumber daya  manusia yang harus   semakin   kompeten  dalam   menjawab  ragam  tantangan abad ke-21 yang ditandai oleh perkembangan teknologi informasi dan  revolusi  industri  4.0 yang  pesat dan  memiliki konsekuensi bagi  terjadinya disrupsi  di berbagai bidang, sehingga manakala sumber daya  manusia tidak  siap  dan  tidak  mampu mengantisipasinya,  kita semua akan  terpinggir dan  kalah bersaing dengan partai  lain yang  lebih  siap.  Dengan kata  lain, sumber daya  manusia  harus  kita siapkan,  selain  strategi pembangunan ekonomi nasional  dan  daerah yang  komprehensif dan  efektif.

Kedua,   masih  dalam   konteks tantangan  bidang  ekonomi, kita juga menghadapi fenomena perang dagang antara Amerika Serikat  dan  Tiongkok,  serta  perkembangan politik  global  yang semakin  dinamis  ke  depan,  khususnya di kawasan  Asia Pasifik, dimana secara geografis Indonesia berada di dalamnya. Dalam konteks inilah, kita dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan  dengan  cermat, sehingga mampu melakukan respons yang tepat, termasuk dalam  menangkap peluang-peluang yang  ada, termasuk dalam  hal ini pengembangan  ekonomi kreatif.

Ketiga,  dalam  lingkup  daerah dan  nasional, sebagai bangsa yang  majemuk atau  plural,  bangsa yang  ber-Bhinneka Tunggal Ika, kita dihadapkan pada kecenderungan yang  bisa  mengarah pada disintegrasi bangsa. Hal ini antara lain ditandai oleh maraknya fenomena politisasi  identitas. Dalam  konteks ini perlu  dipahami  bahwa yang  menjadi masalah bukan  identitasnya, mengingat  identitas primordial(suku, agama,  ras,  dan  antargolongan atau  (SARA) merupakan hal  yang  tidak  terelakkan dalam  suatu bangsa yang  majemuk. Tetapi  yang  menjadi masalah manakala perbedaan-perbedaan identitas primordial yang  sesungguhnya merupakan wujud  kekayaan khazanah bangsa tersebut, dipolitisasi, sehingga politisasi  identitas (primordial)  pun  bisa  berujung pada konflik identitas yang dapat mencederai persatuan dan  kesatuan serta  kelangsungan hidup  bangsa.

Keempat, selain  bidang  ekonomi dan   politik  (demokrasi), tantangan kita sebagai bangsa juga  terkait  dengan masih  merebaknya  fenomena korupsi  baik di tingkat  pusat maupun di berbagai daerah. Media  massa  sering  memberitakan fenomena ini berdasarkan data-data yang  dikutip  dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam  konteks ini, kita juga  mencatat banyaknya kader-kader partai  politik  yang  tersangkut kasus  korupsi.  Oleh karena  itu, wajar manakala kita semua harus saling mengingatkan agar  tidak  terjerat kasus  korupsi.  Integritas partai  dipertaruhkan dalam  hal  ini, kendati Partai  Golkar  telah  memiliki  mekanisme yang  tegas dalam  menyikapi  kasus-kasus korupsi.

Masih banyak tantangan-tantangan eksternal lain yang dapat diuraikan,  namun  dalam  konteks ini, saya hanya  hendak menunjukkan betapa tantangan-tantangan tersebut semakin  kompleks dan  harus  dapat kita  respons dengan  baik  dan  tepat. Dalam menjawab tantangan-tantangan  internal   partai, sesungguhnya Partai  Golkar  telah  memiliki  referensi atau  modal   kesejarahan yang  berharga. Partai Golkar termasuk partai  politik yang  memiliki khazanah sejarah kepolitikan yang  panjang, sejak kehadirannya sebagai Sekber Golkar pada 1964.  Partai Golkar merupakan partai  yang memiliki rekam  jejak yang nyata  dalam  berkontribusi dalam   pembangunan nasional   dan  daerah, baik  semasa Orde Baru maupun Era Reformasi  saat  ini. Partai  Golkar juga  memiliki pengalaman dalam  menyelesaikan konflik internal  yang  pernah terjadi,  melalui mekanisme organisasi yang elegan dan demokratis. Ini semua sesungguhnya menunjukkan bahwa Partai  Golkar memiliki kemampuan untuk  terus  meningkatkan kualitas  penguatan  kelembagaannya.

Menutup Epilog ini, saya termasuk yang merasa bangga dan berbesar hati  melihat  perkembangan Partai  Golkar  di NTT, sebagai partai  politik  yang  memiliki  tingkat  kelembagaan politik yang  kuat.  Masalah-masalah internal  selalu  dapat direspons dengan  baik melalui  mekanisme organisasi. Soliditas  partai  senantiasa terjaga, dan  yang  tidak kalah penting, proses pengkaderan terus  berjalan dengan  baik.  Karena  itulah,  ketika  melihat   para calon  anggota legislatif  baik  untuk  tingkat   nasional,  provinsi, maupun kabupaten/kota Partai  Golkar  NTT, saya  optimis  bahwa mereka adalah para  kader  yang  berkompeten, memiliki integritas  yang  tinggi,  sehingga diharapkan siap  dan  mampu untuk berkiprah secara nyata  dalam  lembaga perwakilan rakyat, apabila mereka terpilih.

Selain  itu,  tentu saya  memiliki harapan besar Partai  Golkar NTT  akan  menggapai  prestasi  elektoral yang   semakin   membanggakan. Kontestasi elektoral, baik di tingkat  kabupaten/kota, provinsi, dan  nasional, memang semakin  ketat, namun  kita harus terus  optimis  dan  percaya diri sehingga mampu menempatkan

kader-kader terbaik  kita di lembaga  perwakilan. Termasuk  juga termasuk dalam  pemenangan kader-kader Partai  Golkar  dalam pemilihan kepala daerah, serta  dalam  mendukung pemenangan pemilu  presiden 2019  yang  penyelenggaraannya dilakukan  secara  serentak dengan pemilu  legislatif.  Kita senantiasa berdoa dan  berikhtiar, agar  partai  kita, Partai Golkar yang kita cintai bersama  senantiasa eksis, survive sebagai kekuatan politik yang signifikan di NTT dan  di Indonesia, sehingga terus  dapat mewarnai dinamika  politik dan  pembangunan.

Pada  akhirnya,  saya  menghargai ikhtiar penulisan buku  ini, semoga dapat memberikan inspirasi  bagi  para  kader  Partai Golkar di NTT pada khususnya dan di seluruh  Indonesia, untuk terus berjuang dan  berkontribusi nyata  dalam  pembangunan. Selaras dengan judul  Epilog  ini, saya  mengajak kepada segenap kader Partai  Golkar  NTT (sebagai provinsi  yang  sangat strategis di Indonesia Bagian  Timur sebagai salah  satu  kantong suara  Partai Golkar), marilah  kita senantiasa menjaga eksistensi dan  survivalitas Partai  Golkar,  sehingga Partai  Golkar  terus  dapat mewarnai setiap proses pembangunan  di  tanah air,  berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat dan  kemajuan bangsa.

Terimakasih  dan  selamat berjuang!

Jakarta,  11  Desember 2018

Dr. Ir. Akbar Tandjung

(Sumber : Buku “Jejak Karya Golkar NTT)


Like it? Share with your friends!

0
admin

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *