Mengenal Mira Pellu, Figur Milenial Dalam Panggung Pileg 2019


Mira Natalia Pellu (Caleg DPRD Kota Kupang, Dapil 3, Nomor Urut 7)

Karyantt.com – Mira Natalia Pellu, usianya masih 22 tahun. Dari sisi usia, gadis kelahiran Dili, 18 Maret 1996, jelas masuk kelompok generasi milenial. Gayanya pun khas milenial, centil menceriakan suasana.

Kuliahnya pada Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisipol Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, hingga pekan kedua November 2018, sudah akan rampung, tinggal menunggu ujian skripsi. Namun sejak setahun sebelumnya atau ketika usianya masih 21 tahun, Mira sudah bergabung dan aktif di DPD Golkar NTT.

Sulung dari empat bersaudara pasangan Joni EO Pellu dan Regina Ertiantji Koanak, itu juga menyandang sejumlah jabatan penting seperti Sekretaris AMPI NTT, Wakil Sekretaris  DPD Golkar NTT dan Sekertaris Tim Komunikasi DPD I Golkar NTT. Mira bahkan tercatat sebagai caleg Golkar nomor urut 7 dari daerah pemilihan Kecamatan Oebobo untuk DPRD Kota Kupang.

Ia mengakui dirinya termasuk kelompok milenial yang awalnya sangat tidak menyukai dunia politik apalagi bergabung dengan parpol. Alasannya karena di mata dia dan rekan-rekan sebayanya, politik adalah kepalsuan. Namun anggapan itu berubah setidaknya sejak September atau Oktober 2017. Persisnya, sesaat setelah ia jumpa salah satu tokoh idolanya, Melki Laka Lena yang adalah Ketua DPD Golkar NTT. Sang idola itulah yang mengubah anggapan Mira tentang politik  dari rasa benci menjadi medan menantang namun dicintai.

Mira mulai tertarik pada politik dan akhirnya berbagung dengan Golkar karena ajakan Melki Laka Lena yang ia lukiskan bergaya khas, gaya milenial. Pada awalnya semacam pejajakan. Ternyata tidak membutuhkan waktu lama. Rasa tertarik langsung tumbuh hingga akhirnya serius bergabung. Kata Mira, politik itu ternyata menantang kemampuan seni berinteraksi termasuk mengolah isu hingga terasa seksi dan menarik untuk ditekuni.

Lalu apa yang mau diperjuangkan Mira saat menjadi anggota dewan? Kepada media ini, Mira mengatakan ia ingin memperjuangkan kepentingan anak muda. Menurutnya, dengan adanya representasi politik anak muda di DPRD akan memberikan legitimasi dan kekuatan  untuk memastikan  setiap kebijakan pemerintah sesuai dengan kebutuhan dan hak-hak anak muda.

“Karena seringkali anggota DPRD yang sudah dalam usia yang tidak muda, tidak dapat seutuhnya mewakili dan memperjuangkan kepentingan anak muda, karena adanya perbedaan kebutuhan dan kepentingan  diantara mereka,” jelasnya.

Mira mengatakan agenda penguatan keterwakilan anak muda di DPRD perlu diselaraskan dengan pengawalan dan kajian kebijakan publik berpespektif anak muda yang sistematis dalam proses politik berkelanjutan.

“Keterwakilan anak muda di DPRD berhasil diwujudkan. Posisi anak muda akan bertrasformasi dari objek menjadi subjek politik dalam setiap regulasi dan kebijakan pemerintah,” ujarnya.

Menurutnya, posisi tersebut akan menghadirkan representasi politik anak muda secara kuantitas yang dapat mendorong agenda politik dengan menitikberatkan identitas, permasalahan, kepentingan dan kebutuhan pemuda-pemudi di Kota Kupang.

Selain isu orang muda, Mira juga mengaku memperjuangan hak – hak perempuan dalam politik. Menurutnya representasi perempuan dalam dunia politik di Indonesia bisa dikatakan masih minim. Ia mengungkapkan bahwa selama ini politik selalu dianggap terlalu maskulin, dimana terjun ke dunia politik semata-mata hanya diperuntukkan untuk kaum adam saja.

“Kalau misalnya maskulinitas itu dibiarkan dan kemudian politik dianggap sesuatu yang jauh dari kita, kemudian dianggap suatu pekerjaannya laki-laki maka perempuan tidak akan pernah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan,” tutur  Mira.

Perempuan memiliki makna yang sangat penting di dunia politik untuk memberikan pemahaman dan menyatukan persepsi tentang pentingnya pembangunan demokrasi yang sehat, adil dan realistis. Sehingga menurut Mira, perempuan harus masuk ke dunia politik jika ingin hak-haknya terpenuhi.

“Setiap keputusan itu ada di politik, nah kalau perempuan mau hak-haknya terpenuhi mereka harus berada di dalam pengambilan keputusan. Itu harus berada di dalam politik yang ada, dan salah satu caranya ya masuk ke partai politik,” jelasnya.

Tak hanya berperan untuk turut serta memperjuangkan hak-hak perempuan, mahasiswi semester akhir Universitas Katolik Widya Mandira Kupang  ini juga mengungkapkan bahwa peran perempuan dalam dunia politik sebagai salah satu bentuk kesetaraan gender dimana baik laki-laki maupun perempuan berada di posisi yang sama.

“Kesetaraan bagi kita punya hak yang sama dan kemudian berada dalam pengambilan keputusan,” imbuhnya. (Sumber: Buku Jejak Karya Golkar NTT/ Go)

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

More From: Profil

DON'T MISS