MENGENAL FRANSISKUS SARONG, CALEG DPRD NTT DAPIL EMPAT


Karyantt.com – FRANSISKUS SARONG,   lazim disapa Frans  Sarong, kelahiran Mbapo, Desa Lembur,  Kecamatan Kota  Komba,   Manggarai  Timur,  2 Maret 1956. Ia menikah dengan Yustina Lema tahun 1986 dan dikaruniai tiga  anak.  Mereka  adalah Carolinda Hellenciana, Maryo  dan Christian  David.

Ia anak dari keluarga petani desa yang  masih  “berorientasi perut”, miskin! Sempat tumbuh niat  serius  menjadi pastor, cita-cita yang   umumnya    digandrungi  pria anak desa tahun  1960-an. Lilitan kemiskinan    membuat  niatnya    harus  ditenggelamkan dengan penuh rasa   geram,  jauh   di  ceruk   kalbunya. Orangtuanya, pasangan David Kembung dan Elisabeth Nau tak mampu membiayai Frans Sarong melanjutkan sekolahnya di Seminari  Pius XII Kisol, sekolah yang  banyak  menghasilkan sumber  daya  manusia berkualitas bagi  negeri ini.

Setelah  tamat  SMP  Pancasila  Borong    (1973)   dan   SMA Swadaya  Ruteng (1976),  ia melanjutkan sekolahnya di  Undana Kupang. Gelar  terakhir  yang  diraihnya  Sarjana  Muda  atau  SM (1982). Sambil  aktif menulis,  Frans  Sarong sempat melanjutkan kuliah  tingkat  doktoral di  kampus yang  sama.  Kuliahnya  tidak rampung karena  lebih  memilih  bergabung dengan Harian Kompas.  Padahal mata  kuliah belum  tuntas tersisa  KKN (kuliah kerja nyata) yang  sedianya dilaksanakan di TTS.

Langkah  kuliah  di Kupang tidak  langsung digeluti setamat SMA. Harus  menunda setahun sebelum kuliah untuk  menyiasati kemiskinan.  Selama  setahun di kampungnya, ia kerja serabutan. Pernah jual beli beras atau  kopi. Juga sesekali  jualan kain selimut dan  kemeja. Barang  jualannya  selalu laku. Modalnya karena warga   kampung  bersimpati dan  juga  mendukung perjuangan Frans Sarong bisa gapai pendidikan lebih tinggi.

Ada kisah haru ketika Frans Sarong harus meninggalkan kampungnya menuju  Kupang. Siang  itu, sekitar  Juli 1977.  Sesaat sebelum  turun tangga rumahnya di Mbapo, mama  tercinta, Elisabeth Nau  (alm) dengan penuh kasih sayang tiba-tiba menggaet tangan kanan  anaknya   itu.  Entah  apa  maknanya, sang  mama diiringi pesan “sekolah nggoi nggoi (sekolah  serius  sampai sukses) menumpahkan liurnya  pada tapak  tangan Frans  Sarong. Lalu, selama berjalan kaki menyusuri  kampung, tidak sedikit warga  menunggu di tepi  jalan depan rumahnya. Mereka  mendekat lalu memeluk sambil  membisikkan pesan sama:   “sekolah nggoi nggoi”.

Entah  apa  kekuatan Frans Sarong hingga mendapat simpati mendalam dari warga  desanya. Mungkin karena  pribadinya yang “cool” dan  rendah hati. Mungkin pula karena  hingga akhir 1970-an itu, Frans  Sarong adalah remaja  pertama dari  desanya yang melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi.

Karena minat menulis begitu kuat, ia memilih mengorbankan kuliahnya.  Debutnya hingga bergabung  dengan  Kompas, juga menyimpan kisah tak terlupakan. Saat  itu, tahun  1984,  Kompas sempat berusaha “menyehatkan” manajemen Mingguan Dian. Salah satu wujudnya  dengan memagangkan sejumlah wartawannya langsung di Harian Kompas Jakarta. Frans Sarong termasuk salah  satu  di antaranya. Waktu magang selama empat bulan  dimanfaatkannya secara maksimal.  Semangatnya menggebu-gebu karena  yang  didapat selama magang tidak  hanya  teori,  tetapi juga diberi kesempatan ke lapangan meliput berita. Kepercayaan dirinya langsung bangkit setelah inisialnya, ANS, ikut dicantumkan pada ujung berita  tulisannya. Apalagi di Harian Kompas, media cetak  terbesar dan  disegani di negeri ini.  Sebenarnya sejak berstatus magang itulah,  Frans  Sarong sudah menunjukkan kemampuannya menulis  berita  format ficer. Sebut salah contohnya: Tekad  Polisi Mengungkap Pembunuhan Sundari  (Kompas,  Sela- sa, 10/7/1984).

Sekitar  seminggu lagi  waktu  magang di  Kompas, berakhir.  Entah  apa  pertimbangan managemen, Kepala  Desk  Daerah  Kompas  ketika  itu, Avent  Kuang  tiba-tiba menawari Frans Sarong  menjadi  Calon   Koresponden  Kompas  untuk   wilayah Flores.  Tawaran  itu membuat dia semakin  berbunga-bunga.

Ia sadar  kemungkinan bergabung  dengan  Kompas merupakan peluang sangat mahal  dan  menjadi kerinduan banyak anak  muda yang  berminat menjadi wartawan. Namun  Frans Sarong  memilih  tetap menjadi wartawan Dian, jika dua  pemimpinnya, P Gabriel  Goran  SVD dan  Thom Wignyanta, masing-masing sebagai  Pemimpin Umum  dan  Pemimpin Redaksi  Dian,  ketika itu, tidak mengizinkan dirinya pindah ke Kompas. Ternyata tidak seperti dibayangkannya. Kedua  orang pemimpin Dian itu justru menyatakan kebanggaannya  dan  merelakan Frans  Sarong bergabung  dengan  Kompas. Maka,  Frans  Sarong akhirnya  resmi bergabung dengan Kompas sejak 1985.

Selama  32 tahun  menjadi wartawan Kompas hingga pensiun, 2 Maret  2016,  Frans  Sarong pernah dipercayakan sebagai Kepala  Biro Kompas yang  berkantor di Denpasar Bali. Selama tujuh  tahun  menjadi Kabiro  (2003  – 2010),  tugas koordinasinya meliputi  tiga provinsi: Bali, NTB dan  NTT.

Di lingkungan jurnalis NTT, Frans Sarong dikenal  sebagai penulis  ficer, terutama yang  bersangkutan dengan budaya. Sebagian  tulisan   ficernya   sudah  dibukukan, di  antaranya  buku berjudul: Serpihan  Budaya  NTT  (Penerbit Ledalero, 2013),  dan Menghirup Wisata Peradaban Manggarai  Timur  (karya bersama Kanis Lina Bana,  Markus  Makur  dan  Fansy  Runggat,   Penerbit Ledalero, 2016).

Mengabdi Total pada Bahasa Humanis

Sepanjang karier menjadi jurnalis Harian Kompas, Frans Sarong tetap memiliki komitmen yang kuat untuk mengabdi pada bahasa-bahasa humanis. Ia mengenal dan memahani benar tentang arah dari Harian Kompas, yang mengabdi penuh dalam humanis interest  atau mengabdi pada kemanusiaan melalui rangkaian-rangkaian kalimat yang diwartakannya.

Dan itulah sosok Frans Sarong yang sudah 30 tahun hingga pensiun sebagai wartawan di Harian Kompas  dengan mengabdi penuh pada bahasa-bahasa humanis. Ia mengabdi pada humanis di seluruh karier jurnalistik.

Melalui karya-karya pewartawan itu, Ia  sudah berbuat dan berjasa bagi Manggarai Raya dan NTT melalui pena hati dan mata tajam untuk membahasakan hal-hal biasa di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai persoalan hidup dan sosial dan lain sebagainya. Ia mengetahui benar apa yang harud di abdikan melalui pena seorang jurnalis untuk membawa sebuah perubahan sosial kemasyarakatan.

Peka Terhadap Masalah Kemanusiaan

Sejak berkarya di Harian Kompas di Ende, saat itu Maumere, Kabupaten Sikka terjadi tsunami. Hasil-hasil liputan features humanisnya mendapatkan apresiasi serta menggugah orang di Jakarta untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Lalu, bantuan dari orang yang peduli dari Jakarta disalurkan melalui Harian Kompas. Lalu, Harian Kompas  membentuk Yayasan kemanusiaan, dengan nama Dana Kemanusiaan Kompas (DKK). Lalu, bantuan tiba di Kabupaten Sikka waktu itu.

Bukan hanya itu yang dibuatnya di wilayah Nusa Tenggara Timur pada umumnya dan Manggarai Raya khususnya. Ketika ada bencana tanah longsor di Gapong, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai. Ia ditugaskan khusus dari kantornya untuk meliput bencana alam tersebut. Ia terbang ke Manggarai dari Kupang demi mengabdi pada bahasa-bahasa humanis. Alhasilnya, hasil liputan features menggugah nurani Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengunjungi lokasi bencana tersebut. Lalu, mengalirlah bantuan kemanusiaan ke wilayah itu, termasuk bantuan kemanusiaan dari Harian Kompas.

Tidak hanya untuk Kabupaten Manggarai, khusus untuk Manggarai Timur, ia pernah meliput khusus tentang bencana angin puting beliung. Ia tetap mengabdi pada bahasa-bahasa humanis sehingga menggugah nurani seluruh pembaca di seluruh Indonesia, dan akhirnya Bantuan Kemanusiaan Kompas bagi orang yang mengalami bencana seperti di Kecamatan Ranamese dan kecamatan lainnya di Manggarai Timur. Selain itu, bantuan kemanusiaan juga khusus pembangunan air minum bersih di wilayah Manggarai Barat, Manggarai Timur dan Ngada dan Sikka.

Suaranya sangat dipercaya oleh manajemen Harian Kompas  serta Yayasan Kemanusiaan Kompas karena ia sangat dipercaya dengan kejujuran dan bernurani dalam mengabdi dengan total.

Mengabdi Untuk Rakyat Manggarai Raya

Setelah pensiun dari Kompas, Frans Sarong memilih bergabung dengan Partai  Golkar    di NTT, sejak  2016.    Golkar mengusung dirinya menjadi calon  Bupati  Manggara Timur pada pilkada serentak, Juni 2018. Gagal menjadi bupati, ia kembali aktif di Golkar  NTT. Hingga  medio Desember 2018,  ada  sejumlah jabatan yang  diembannya di Golkar  NTT. Selain  sebagai Wakil Ketua,  ia Ketua  Satgas Anti Korupsi,  Koordinator Caleg  Golkar Dapil 4 (Manggarai Raya) dan  koordinator penulisan buku:  “Jejak Karya Golkar NTT”.

Menyongsong pemilu 17 April 2019,  Frans  Sarong juga maju menjadi caleg  nomor 4, Dapil 4 (Manggarai Raya) dari Golkar untuk DPRD NTT. Ia mengusung tagline “Kekuasaan itu poin bukan koin”. Ia maju pada helatan pesta demokrasi untuk merebut kekuasaan untuk mengabdi dan sebagai pelayan masyarakat dengan sungguh dan total. Bukan koin lagi yang dicarinya melainkan poin atau pengabdian yang lebih sungguh dan total demi membawa perubahan Manggarai Raya yang masih terseok-seok, walaupun masih ada pembangunannya, namun tidak secara keseluruhan. (Sumber : Buku Jejak Karya Golkar NTT/Voxntt.com)

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

More From: Profil

DON'T MISS