MAHADI SINAMBELA DALAM KENANGAN


0

Karyantt.com – Pagi itu Jum’at tanggal 1 Maret 2019, ketika umat muslim bersiap-siap menuju masjid untuk melaksanakan ibadah sholat Jum’at, istriku Desi memberitahu berita yang masuk ke WA bahwa Mahadi Sinambela telah menghembuskan nafasnya yang terakhir di RS Gatot Subroto. Kendati saya sudah mengetahui cukup lama ia menderita sakit akibat stroke, namun tetap saja saya terkejut mendengar berita ini. Masih terbayang pertemuan kami pada peringatan hari lahir HMI, tanggal 5 Februari lalu di rumah bang Akbar Tandjung. Tidak seperti biasanya bang Akbar kali ini mengajak berfoto bersama. Dan tidak dinyana ternyata inilah kali terakhir kami bersama Mahadi.

Sepeninggalnya, kenangan apakah yang tersisa dari almarhum?

Kalau kita menyebut nama Mahadi Sinambela, maka terbayanglah seorang laki-laki tinggi besar dengan suara baritonnya. Kendati wajahnya tampak keras namun di balik senyumnya tampak  wajah yang tulus yang sering diselingi nada humor. Kesan berikutnya yang menonjol adalah penampilannya yang sederhana, baik dari cara berpakaian maupun kendaraan yang digunakan sehari-hari.  Suatu hari ia datang ke Istana Negara, ketika akan dilantik sebagai Menpora oleh Presiden Abdurrahman Wahid, dengan menggunakan kendaraan tua sehingga penjaga istana tak percaya bahwa dihadapannya itu adalah seorang tokoh politik yang sebentar lagi menjadi menteri. Untuk urusan makanpun tidak sulit-sulit amat selama masih ada nasi padang, kesenangannya. 

Mahadi Sinambela telah menetap di Yogyakarta sebagai pelajar pada paruh terakhir tahun 1960-an meninggalkan tanah kelahirannya di Tanjung Balai, Sumut, Ia kemudian meneruskan kuliahnya di Fakultas Sosial Politik UGM. Saya mulai mengenalnya di tahun 1971 ketika mulai  berkuliah di fakultas yang sama, baik sebagai mahasiswa senior maupun sebagai tokoh HMI. Perawakannya yang tinggi dan gaya bicaranya mudah menarik untuk ngobrol dengannya lebih lama. Ia termasuk aktivis HMI yang sangat aktif. Sepanjang pengetahuan saya Ketua HMI Yogyakarta yang secara nasional menonjol setelah Beddu Amang adalah Mahadi Sinambela, Ia banyak mewarnai perpolitikan mahasiswa, terutama dalam peralihan pimpinan HMI.  Untuk menjaga agar keakraban alumni HMI Yogyakarta tetap terpelihara, bersama Beddu Amang dan beberapa alumni lainnya membentuklah Yayasan Amal Insani sekitar tahun 1980-an. Yayasan ini bergerak memberikan bea siswa bagi mahasiswa berprestasi. Setelah Beddu Amang dan Sapuan, Mahadi kemudian memimpin yayasan ini. Mahadi pula yang tak putus selalu mendorong acara silaturahmi para alumni yang diadakan setiap tahun melalui buka puasa bersama dan halal bil halal tanpa putus. Barulah dua terakhir saya mengambil alih sementara acara tersebut akibat sakit yang dideritanya.

Bercerita tentang Mahadi pastilah tidak cukup tanpa menyinggung sepak terjang politiknya. Seperti kita ketahui di era tahun 1970-an dinamika politik mahasiswa ikut  memanas sejalan dengan panasnya  suhu politik nasional, demikian pula halnya di Yogyakarta. Beberapa tokoh nasional, seperti Jenderal Ali Murtopo, Jenderal Surono Reksodimejo, Jenderal Sumitro lengkap dengan pakaian militernya berkunjung ke kampus UGM memberikan berbagai ceramah. Dari kalangan sipil terlihat,  antara lain Juwono Sudarsono, Ruslan Abdulgani, dan Nurcholid Madjid. Tercatat gerakan mahasiswa yang panas jatuh pada tahun 1974 melalui Peristiwa Malari dan tahun 1978. Panasnya dunia politik mahasiswa pada waktu itu mendorong pemerintah menertibkan dunia aktivitas  mahasiswa melalui langkah yang bernama Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) oleh Menteri Pendidikan Daoed Joesoef. Dalam suasana demikian diskusi tentang politik dengan pandangan kritis dari Mahadi menambah hangatnya diskusi. Masih segar dalam ingatan saya adalah ketika mengikuti Intermediate Training Course HMI pada tahun 1974. Pada waktu itu sebagai penceramah Mahadi memberikan pandangannya tentang kehidupan politik nasional dan gerakan mahasiswa, Gaya bicaranya yang santai, nyaris ”seenaknya”, tetap enak diikuti sehingga pendengarnya tidak mengantuk. Ia mengajak kita berpikir 25 tahun ke depan sehingga menyebut dirinya sebagai manusia tahun 2000-an.  Terbukti kemudian puncak yang kariernya tercapai menjelang tahun 2000 ketika dilantik sebagai Menpora. 

Barangkali yang paling menarik dikenang adalah eksperimen politiknya di kampus. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di UGM  terjadi persaingan antara GMNI dan HMI untuk menguasai dewan mahasiswa. Dalam persaingan itu GMNI lebih banyak menguasai dibanding HMI. Untuk waktu yang cukup lama kursi Ketua Kodema (Komisariat Dewan Mahasiswa) di Fakultas Sospol UGM tak terkecuali selalu di tangan GMNI. Kondisi ini mendorong  Mahadi mencari jalan agar sekali waktu fakultas ini tidak dikuasai GMNI.

Pada waktu itu seorang mahasiswa independen, bernama Sutradara Gintings, dikenal sangat pintar menganalisis kehidupan sosial politik  dan retorikanya  jarang ada tandingannya di UGM. Dalam berbagai diskusi ia selalu menonjol. Popularitasnya memberi Mahadi inspirasi  untuk mengajaknya maju sebagai calon Ketua Kodema dengan mendapat dukungan HMI kendati Gintings non-muslim. Ajakan Mahadi mendapat gayung bersambut. Hasil pemungutan suara dari eksperimen Mahadi ini  terbukti posisi Gintings sebagai tokoh yang dianggap independen akhirnya memperoleh dukungan mayoritas mahasiswa, Terpilihlah Gintings sebagai Ketua Kodema. Dikemudian hari kita mengenalnya sebagai anggota DPR mewakili Golkar, kemudian Partai Keadilan dan Persatuan dan terakhir terpilih dalam Pemilu 2004 mewakili PDIP.

Setelah itu tahun-tahun berikutnya GMNI tetap menguasai Kodema di Fakultas Sospol UGM, termasuk ketika saya maju menantang tokoh GMNI, Sudjadnan Parnohadingrat pada tahun 1974. Dari sebelas calon dipilih tujuh orang berdasarkan urutan suara. Dan. Sudjadnan menjadi pemenang pertama dan saya sebagai pemenang kedua, disusul Handryo Pujo Kusumo (mantan Dubes di Brunei), Rasyid Saleh (mantan Dirjen Dukcapil, Kemendagri) dan yang masih teringat Manahat Aruan. Seperti kita ketahui Sudjadnan kemuian dikenal sebagai Sekjen Kemlu, Duta Besar di Canberra dan Washington.  

Dalam era reformasi peranan Mahadi sebagai kader Golkar tak kalah pentingnya. Ia menjadi ketua tim mempersiapkan Akbar Tandjung sebagai calon ketua umum  pada Munaslub Golkar  tahun 1998.yang bermarkas di salah satu sudut di Kebayoran Baru. Disinilah disusun rancangan pemenangan, seperti menyiapkan visi misi dan pendekatan terhadap daerah-daerah untuk mendapatkan dukungan.  Seperti diketahui lawan berat Akbar Tandjung pada waktu itu adalah Jenderal Sudradjat, KASAD.

Setelah Akbar Tandjung terpilih dan  Golkar menjadi partai politik dengan paradigma barunya, Mahadi kembali mendapat tugas lain. Kali ini ia dan Rully Chairul Azwar ditugaskan mengawal Partai Golkar di KPU. Berada di antara wakil-wakil dari empat puluh partai terbayang beratnya tugas mereka. Tuduhan sebagai partai Orde Baru yang  tak putusnya dilontarkan oleh lawan-lawan. Demikian pula bagaimana mengamankan nama-nama caleg Golkar yang ingin disingkirkan. Saya dan Syamsul Bachri  yang mewakili Sulawesi Selatan termasuk diselamatkan oleh Mahadi dari upaya untuk disingkirkan sebagai caleg.

Saya kira peristiwa yang sangat memukul Mahadi adalah gagalnya Akbar Tandjung sebagai calon presiden dari Partai Golkar yang dikalahkan oleh Wiranto.  Ia sangat menyesalkan mengapa perlu dua putaran dalam pemilihan itu. Sebab pada putaran pertama saja Akbar Tandjung sudah unggul. Demikian kekecewaannya muncul pula ketika Jusuf Kalla mampu mengalahkan  Akbar Tandjung dalam Munas Golkar di Bali.

Kendati mengalami beberapa kekecewaan Mahadi tetap konsisten ikut memperjuangkan Golkar. Dalam era kepemimpinan Aburizal Bakrie, keikutsertaannya sebagai anggota Dewan Pertimbangan tetap tinggi, terutama menghadapi kemelut perpecahan partai ini ketika itu. Boleh dikata banyak waktu terpakai mencari solusi terhadap kemelut itu. Melihat kemelut itu dalam pandangannya perlu ada pimpinan baru di luar pimpinan yang ada selama ini. Ajakan Akbar Tandjung untuk mendukung Airlangga Hartarto dalam Munas di Bali menghadapi Aburizal Bakrie disambutnya dengan antusias. Sosok Airlangga dipandangnya tepat sebagai ketua umum masa depan. Demikian juga dukungan tetap diberikan ketika Airlangga kembali bertarung dalam Munaslub 2016 yang dimenangkan Setya Novanto.

Pada saat Munaslub tahun 2017 Mahadi sudah tidak bisa menghadiri acara ini karena ia sudah menderita sakit.  Ia hanya dapat mensyukuri bahwa dukungan yang diberikan kepada Airlangga selama ini  akhirnya membuahkan hasil juga.. Mungkin  itulah kebahagiaan Mahadi dalam mengakhiri perjalanan hidupnya di bidang politik. Selamat jalan kawan.

Kebagusan, 5 Maret 2019

Ibrahim Ambong


Like it? Share with your friends!

0
admin

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *