Inche Sayuna Berpolitik dengan Perspektif Gender


1
Dr. Inhce D.P Sayuna, M. Hum, M.Kn. (Calon DPRD NTT, Dapil 8 : TTS, No Urut 1)

Karyantt.com – Mayoritas kaum awam memandang peranan perempuan masih hanya sebatas “rumah tangga”. Artinya, kaum perempuan lebih banyak mengurusi hal-hal yang bersangkutan dengan rumah tangga seperti memasak, melahirkan dan merawat anak, membersihkan rumah, melayani bapak rumah tangga dan lain-lain.

Namun pandangan itu tidak berlaku bagi politisi perempuan asal Timor Tengah Selatan (TTS), Dr. Inhce D.P Sayuna, M. Hum, M.Kn. Bagi Inche perempuan juga punya hak yang sama dalam berpolitik dan itu dibuktikan dengan menjadi anggota DPRD NTT dua periode yaitu tahun 1999 – 2004 dan 2004 – 2009. Di Tahun 2013, Inche DP. Sayuna juga sempat maju mencalonkan diri menjadi Bupati Kabupaten TTS yang berpasangan dengan Daniel Pobas, namun belum berhasil.

Inche kemudian melanjutkan studi doktornya di Universitas Sebelas Maret Surakarta Jawa Tengah. November 2017, Inche Sayuna berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dengan disertasinya berjudul “Penguatan Politik Hukum Affirmative Action Untuk Meningkatkan Representasi Perempuan di Legislatif”.

Disertasi Inche ini menawarkan novelty/ temuan terbaru soal model affirmative action untuk meningkatkan representasi perempuan di legislatif yang diberi nama Reserved seats/Blocking seats dengan rekayasa teknis pemilu/electoral engenering.

Dimasa kepengurusan Ketua Golkar NTT, Melki Laka Lena, Inche diberi kesempatan menjadi Sekretaris Golkar NTT. Ia juga menjadi Ketua DPD Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia( IWAPI) Nusa Tenggara Timur.

Lalu seperti apa awal karir Inche Sayuna dalam politik? Istri dari Hengki Famdale dan ibu dari Grace Natalia Putri Hengki Famdale ini, awal mula tidak pernah punya cita-cita sebagai anggota DPRD. Awalnya Inche adalah seorang akademisi, dosen di Unkris (Universitas Kristen Arta Wacana Kupang). Setelah lulus dari Unkris, angkatan pertama, langsung mengajar. Ia Mengajar selama 1989 – 1996. Selama kuliah, Ia pernah menjadi mahasiswa teladan. Lalu diutus sekolah di Universitas Gajah Mada. Inche bersama tiga orang ikut tes rebut satu beasiswa sampai S3, dan Inche yang terpilih mendapatkan beasiswa tersebut.

Tahun 1999 setelah ada gelombang reformasi, Inche mendapat tawaran dari Partai Golkar untuk menjadi anggota DPRD NTT mewakili Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Pada saat itu Inche masih mengikuti pendadaran tesis di Universitas Gajah Mada. Awalnya Inche bingung karena cita-citanya menjadi menjadi dosen terkenal belum tercapai. Namun karena ingin mencoba sesuatu yang baru maka ia memutuskan untuk menerima tawaran itu. Inche memutuskan untuk mengundurkan diri dari kampus. Selesai pendidikan di Universitas Gajah Mada, Inche lantas terjun ke politik. Pada pemilu 1999, Inche terpilih menjadi anggota Dewan. Dan pada Pemilu 2004, ia kembali terpilih menjadi anggota Dewan.

Inche sebelum terjun ke dunia politik sudah aktif dalam kegiatan organisasi maupun kegiatan sosial kemasyarakatan sejak tahun 1985. Inche bergabung di AMPI (Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia), di HWK (Himpunan Wanita Karya), KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) dan Tahun 1999 masuk menjadi pengurus Partai Golkar. Aktif di organisasi ini membuat Inche mengenal banyak hal, termasuk politik.

Berpolitik, bagi wanita pengagum Margareth Teacher ini, adalah sesuatu yang berkaitan dengan kekuasan, pengambilan keputusan, dalam pengertian yang formal. Karena itu, baginya politik itu adalah suatu seni untuk mengelola kekuasaan dan bagaimana mengelola strategi mengambil keputusan yang berdampak pada orang banyak. Ini yang membuat Inche selalu berpikir lebih luas lagi dan bisa menjangkau orang lebih banyak lagi. Bagaimana pergunakan potensi yang ia punya, tidak saja berpikir tentang dunia pendidikan tapi dalam berbagai aspek.

Selama menjadi anggota DPRD NTT, Inche tidak mau berada dalam lembaga hanya untuk dipakai pada saat voting dan minta baca pemandangan karena ia punya misi memperjuangan misi perempuan. Ia ingin kehadiran dirinya di DPRD memberi warna untuk melakukan sebuah perubahan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang lebih ramah terhadap perempuan. Kebijakan yang responsif gender. Inche tidak ingin negara bayar dirinya dengan fasilitas yang luar biasa, lalu  hanya duduk diam dan tidak berfungsi di lembaga itu.

Inche berpandangan bahwa di lembaga DPRD Memang tidak mudah bagi perempuan untuk diterima dengan baik. Karena menurutnya sistim yang dibentuk sudah sangat patriarkat. Pola pikir juga sangat patriarkat sehingga semua proses dan pengambilan keputusan itu juga sangat patriakat. Dan karena itu, perlu membangun sinergi dengan sesama teman-teman agar memberi ruang kepada perempuan untuk berekspresi sesuai dengan kapasitas yang dia punya. Inche punya prinsip adalah dirnya harus berfungsi dengan baik, menjaga moral supaya dirinya jangan bersentuhan dengan hal-hal yang dapat mencederai karya politiknya. Ia berusaha untuk menjaga sikap agar bisa diterima baik oleh orang lain. Dirinya berusaha untuk melakukan tugas dan tanggung jawab secara baik. Membangun relasi positif dengan sesama teman-teman, Ia berusaha untuk positive thingking, dan menganggap semua orang baik. Itu yang kemudian tidak ada beban bagi dirinya untuk berinteraksi dengan orang lain.

Selama sepuluh tahun menjadi anggota DPRD NTT, Inche selalu berusaha mempengaruhi kebijakan pemerintah yang responsif gender. Ia berusaha untuk berjejaring dengan teman anggota Dewan – laki dan perempuan, juga berjejaring dengan orang-orang di luar DPRD, di eksekutif dan yudikatif. Semua organisasi perempuan yang konsen terhadap isu perempuan dan anak yang difasilitasi oleh Biro Pemberdayaan Perempuan diajak untuk kerjasama. Mereka menjadi sumber informasi dan motivator, membantu dirInya untuk berjuang di DPRD. Inche selalu membangun komunikasi agar anggota Dewan bisa membantu minimal tidak menolak ketika menawarkan kebijakan. Di setiap kesempatan, Inche juga mensosialisasikan gender. Setiap percakapan, apa yang Inche ungkapkan pasti tak bertolak dari isu gender, seperti susun pendapat komisi, pemandangan fraksi, bicara dalam forum diskusi dan seminar. Bagi Inche itu media kampanye yang positif. Karena selalu sering omong tentang gender, teman-temannya memanggil Inche sebagai Miss Gender, Ibu gender. Gelar Ibu gender, bagi Inche adalah sebuah reward untuk dirinya. Terlepas dari mereka suka atau tidak suka, dirinya menganggap itu sebuah pengakuan ketika dirinya bicara tentang isu gender di Dewan.

Inche berpandangan bahwa banyak parpol yang belum mempersiapkan kadernya secara optimal untuk duduk di DPRD. Karena baginya bicara tentang hak, perempuan harus dipersiapkan secara baik untuk masuk dalam sistim. Jadi perlu di dorong parpol untuk mempersiapkan kader perempuannya dengan baik karena mengubah sesuatu yang tidak biasa menjadi biasa itu butuh proses dan membutuhkan waktu. Inche mengakui selama menjadi anggota DPRD NTT, mereka berjuang dengan sebuah paradigma berpikir, membutuhkan waktu untuk bisa berubah dan diterima dengan baik. Banyak hal baik yang menurut Inche sudah dibuat oleh lembaga Dewan, dalam bentuk kebijakan dan rekomendasi pikiran, cuma eksekusi kebijakan di tingkat pemerintah itu yang lambat. Banyak pikiran-pikiran baik yang ternyata hanya sampai pada tataran konsep, sedangkan implementasi kecil sekali.

Menurut Inche, letak persoalan gender adalah pada pola pikir patriarkat masih sangat dominan. Karena itu, walaupun sekarang ini begitu banyak organisasi perempuan yang turun melakukan sosialisasi, walaupun begitu banyak aturan yang sudah dihasilkan baik pada tataran nasional dan lokal yang memungkinkan untuk membuka isolasi itu, bagi Inche, sampai dengan saat ini, perjuangan untuk mengubah pola pikir itu masih cukup panjang. Faktor utama yang menghambat adalah budaya. Inche mencontohkan, dikalangan orang Timor, walaupun sudah omong soal perempuan jadi pemimpin, bagi mereka itu sesuatu yang aneh. Ketika ada perempuan yang berani menyampaikan secara terbuka menjadi bupati, bagi dia ini sesuatu yang menakjubkan. Mereka yang di kampung-kampung sulit terima. Agak berbeda dengan perempuan kota, sudah tidak sulit untuk membicarakan tentang kesetaraan. Walaupun tidak semua orang tulus memberi pengakuan seperti itu, Inche akan merasa sangat bahagia kalau antara masyarakat kota dan akar rumput sudah memiliki pemahaman yang benar.

Hal ini yang terus diperjuangkan Inche, karena baginya, perempuan bukan sosok yang lemah tetapi perempuan adalah penggerak pertumbuhan ekonomi di NTT, karena sektor riil yang dipegang hampir seluruhnya perempuan dan ini menjadi sebuah kekuatan besar yang siap mendorong pemerintah untuk sebuah kemajuan.

Untuk itu Inche belum mau berhenti berpolitik. Banyak hal yang ingin Inche perjuangkan. Untuk itulah di pemilihan legislatif 2019, Inche kembali mencalonkan diri menjadi anggota DPRD NTT dari Partai Golkar Nomor urut 1, Dapil NTT 8, Timor Tengah Selatan. Masih dengan misi yang sama yakni melakukan sebuah perubahan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang lebih ramah terhadap perempuan. Kebijakan yang responsif gender. Inche punya prinsip, setiap langkah diatur oleh Tuhan. Dan karena itu, ia serahkan usaha dan perjuangan ini pada Tuhan. (Diolah dari berbagai sumber/Go)

BIODATA

Nama : Dr. Inche DP Sayuna, SH, M.Hum., M.Kn

Lahir : 11 Desember 1966

Suami : Hengki Famdale (Notaris PPAT/pengusaha)

Anak : Grace Natalia Putri Hengki Famdale

Hobi : Membaca

Tokoh idola : Margareth Teacher

Pendidikan :

Menyelesaikan SD – SMA di SoE

S1 Fakultas Hukum UKAW Kupang 1989

S2 Hukum Agraria Universitas Gajah Mada Yogyakarta 1999

S3 Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta Jawa Tengah 2017

Pengalaman Kerja :

Dosen Fakultas Hukum UKAW Hukum (1989 – 1999)

Anggota DPRD NTT (1999 – 2004)

Anggota DPRD NTT (2004 – 2009)

Wakil Ketua Fraksi Golkar DPRD NTT

Mantan Ketua Komisi C DPRD NTT

Sekretaris Golkar NTT (2017-sekarang)

Ketua DPD Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia( IWAPI) NTT (2018-Sekarang)


Like it? Share with your friends!

1
admin

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *