Golkar Menuju Partai Milenial


0

Oleh Tony Kleden

Apakah politik masih punya tempat di hatidan menjadi menjadi perhatian anak muda sekarang ? Jika kebanyakan sudah apolitis, kekuatan apa yang mampu membawa mereka masuk ke dalam dunia politik dan naik ke panggung politik? Wajah partai macam mana yang mampu merasuki hati anak muda untuk kemudian membangkitkan minat mereka terhadap partai politik? Dengan wataknya sudah sedemikian ‘milenial’, yang sangat kuat ditandai dan dicirikan oleh penggunaan dan ketergantungan pada perangkat teknologi komunikasi  yang menyajikan aneka kemudahan melalui  jaringan  internet,  apakah masih  relevan mengajak anak muda bergabung dalam partai  politik? Dalam rumusan  padat, masih relevankah mengajak generasi milenial bergabung di partai  politik? Inilah sejumlah pertanyaan substansial, krusial dan  relevan  yang  menjadi nada dasar tulisan  sederhana dan  singkat  ini.

Milenial-Internet

Para  ahli dan  peneliti umumnya mengidentifikasi generasi mile- nial sebagai Generasi Y (Gen Y), yakni kelompok penduduk yang lahir setelah Generasi X (Gen X). Generasi ini lahir pada awal tahun  1990-an hingga 2000-an. Dengan demikian, generasi milenial adalah anak-anak muda  yang  saat  ini berusia antara 15 – 38 tahun.

Generasi milenial memiliki karakter  yang  sangat khas, di antaranya lahir di zaman  TV sudah berwarna dan menggunakan remote, sejak sekolah sudah menggunakan handphone, setiap tahun  bisa  ganti  smartphone, internet menjadi kebutuhan pokok, berusaha untuk  terkoneksi di  mana  pun,  eksistensi ditentukan dari  jumlah  follower  dan  like,  punya  tokoh  idola,  punya  afeksi pada genre musik dan budaya pop yang sedang ngetrend. Di Indonesia, penduduk dengan kisaran usia ini mencapai sekitar 100 juta jiwa. Artinya hampir  setengah  dari penduduk Indonesia.

Dari begitu banyak  karakter  khas  generasi ini, penggunaan dan  sekaligus  ketergantungan pada  internet menjadi  ciri dan karakter  yang  paling  kuat dan  memberi warna  kehidupan kepada generasi milenial secara khas. Sejumlah  survei dan  data, baik nasional maupun global, memperlihatkan kecenderungan meng- gunakan perangkat handphone berbasis android yang  tersam- bung ke jaringan  internet semakin  tinggi.  Survei yang  dilakukan Kleiner Perkins yang  diterbitkan secara online  dengan judul “Internet Trends  2018”   (Mei 2018), menunjukkan bahwa tahun  2017 sekitar 80 persen handphone berbasis android menguasai pasar handphone dunia.  Perangkat handphone berbasis android adalah perangkat handphone yang selalu bisa terkoneksi ke jaringan internet secara  mudah.

Di Indonesia, data juga membuktikan betapa orang Indonesia begitu familiar, dekat dan  bahkan sangat gandrung dengan perangkat handphone. Pada  posisi  Januari 2018  penduduk Indonesia sebanyak 265,4  juta jiwa. Dari jumlah ini sebanyak 177,9 juta  orang menggunakan handphone, 132,7  juta  pengguna internet, 130 juta orang aktif di sosial media, 120  juta aktif bermedia sosial menggunakan smartphone.

Dilihat  dari  platform  media sosial  yang   digunakan,  maka sebanyak 43  persen orang Indonesia  aktif membuka youtube, 41  persen aktif di facebook, 40  persen aktif di whatsapp (WA) dan  38  persen aktif di instagram.  Dilihat  dari  berapa lama  ak- tif menggunakan internet setiap  hari,  maka  sebanyak 8,51  jam (8 jam 51 menit) orang Indonesia aktif di internet untuk berbagai keperluan, 3,23  jam aktif berselancar di media sosial,  2,45  jam menonton siaran  (televisi, streaming, video on  melalui  internet) dan  1,19 jam mendengar musik dari internet.

Inilah wajah kita sekarang, wajah manusia Indonesia hari ini. Jelas,  internet tidak bisa dipisahkan dari keseharian hidup  orang Indonesia. Kalau menggunakan internet dan  aktif berselancar di media sosial adalah ciri dan karakter  generasi milenial, maka bisa diperkirakan hampir  separuh orang Indonesia adalah pengguna aktif media sosial.

Jauhi Politik

Sudah  jadi  pendapat yang  diterima sebagai taken  for granted bahwa generasi milenial adalah kalangan yang  tidak suka politik atau  apolitis.  Asyik dengan dunia  sendiri  yang  ditandai dengan kegandrungan pada  media sosial  membuat  generasi milenial cenderung tidak mau bersentuhan dan berurusan dengan politik.

Banyak survei juga  membuktikan pendapat seperti ini. Hari- an Kompas pada minggu ketiga  Desember 2017  lalu melakukan jajak  pendapat untuk  mengetahui seperti apa  minat  dan  perhatian  anak-anak muda atau  generasi milenial  terhadap dunia politik.  Dari jajak pendapat itu ternyata anak  muda cenderung memandang politik sebagai cara  untuk  merebut kekuasaan semata. Sebanyak 35 persen responden menjawab politik identik dengan kekuasaan.

Yang lebih  mencengangkan ialah  kesan   spontan yang  di- ungkapkan sepertiga  responden lainnya  saat  mendengar kata  ‘politik’  adalah    korupsi  dan   kebohongan. Istilah  politik  yang cenderung   terkesan negatif di mata  kalangan muda tak  lepas dari pendapat mereka tentang motivasi politisi ketika  memasuki dunia  politik.   Dua  dari  lima responden meyakini  bahwa tujuan paling  utama yang  ingin dicapai dari orang-orang yang  ikut ber- politik sebenarnya adalah kekuasaan. Hampir seperlima responden  meyakini  bahwa berpolitik adalah salah  satu  jalan  mudah untuk mencari uang.

Mengapa anak  muda cenderung memandang politik  begitu negatif? Persepsi negatif terhadap dunia  politik kita memang masih  sangat sulit  dihindari. Bagaimana tidak.  Penyelewengan kekuasaan, kasus-kasus korupsi,  perilaku  tak etis para  politisi,  intrik politik dan  hal negatif  lainnya  dari dunia  politik bisa  dilihat secara terang benderang melalui berbagai media, termasuk media sosial yang telah  menjadi bagian  dari kehidupan kaum muda masa  kini.

Sejak dibentuk tahun  2004  lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap dan  menangani begitu banyak  kasus ko- rupsi. Hingga medio tahun  2017 lalu sebanyak 212 dari 670 kasus (32 persen) pelaku  korupsi  punya  latar  belakang partai  politik. Orang-orang itu merupakan kepala daerah, wakil kepala daerah, anggota legislatif di pusat, juga di provinsi dan  kabupaten/kota. Sejumlah  petinggi partai  juga terlibat kasus korupsi.

Inilah realitas  politik   yang  ditangkap anak  muda, generasi milenial.  Wajar  jika generasi milenial  tidak  suka  dengan dunia politik.

Politik Terlibat

Sejumlah  fakta  ini ikut memberi andil  sangat besar kepada kalangan generasi milenial sehingga mereka ogah terlibat di dunia politik.  Watak  dan  karakter  tidak  etis  para  aktor  politik  yang menyebar di  sejumlah partai  juga punya  peran sangat besar bagi  apatisme politik yang  melanda kalangan muda sekarang.

Maka yang  perlu  dilakukan  partai  politik menyambung kembali benang putus antara kalangan muda dengan partai  politik adalah, pertama, membenahi ‘ruang dalam’ partai  politik sendiri; kedua, menempatkan para  aktor politik dengan kualifikasi  yang mumpuni.

Pertama, membenahi ruang  dalam  partai  politik.  Sejatinya partai  politik  adalah organisasi politik  yang  menjalani ideologi tertentu atau  dibentuk dengan tujuan  umum.  Dengan rumusan lain, partai  politik adalah kelompok yang  terorganisir yang  ang- gota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan  cita-cita yang sama.  Partai politik didirikan dengan tujuan  untuk memperoleh  kekuasaan politik dan  merebut kedudukan politik   dengan cara konstitusional  untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan dan menerjemahkan visi dan  misi partai  demi  kesejahteraan publik atau  masyarakat.

Dalam  praktek, banyak  partai  melempem jauh  dari  hakikat berdirinya  ini. Partai menjadi ajang  pertarungan kepentingan di antara para  pengurus dan  anggotanya. Pertarungan kepentingan kemudian menyata dalam  perebutan posisi  di badan pengurus. Dengan menjadi badan pengurus, kepentingan pribadi lebih mudah dibawa masuk ke dalam  partai.  Tidak heran, kepentingan pribadi/pengurus sangat sering  diartikulasikan sebagai kepentingan partai.

Partai  politik  itu bersifat terbuka. Terbuka  untuk  siapa  saja yang menaruh minat terhadapnya. Maka pengembangan, pengelolaan dan bahkan manajemen partai  harus mengikuti kaidah-kaidah profesionalisme sebuah organisasi modern. Intrik, kepentingan pribadi dan atau kelompok tidak bisa dibawa masuk ke partai. Prinsip  dan  kaidah  profesionalisme bakal  menjadikan partai  sebagai sebuah organisasi kepentingan dan  lintas  SARA (suku, agama, ras dan  antargolongan).

Kedua,  menempatkan para  aktor  politik  dengan kualifikasi yang   mumpuni.  Prinsip  dan   kaidah   profesionalisme  pengelolaan  sebuah partai  politik  mengandaikan para  pengurus partai dengan kualifikasi yang  disyaratkan seperti mempunyai integritas  moral,  mempunyai kapasitas dan  kompetensi yang  kemudian  bisa  membentuk sebuah tim kerja  yang  tangguh. Tim kerja yang  solid mengharamkan pengkultusan individu  di partai  politik, menegasikan semboyan one man show,  tidak berafiliasi pada kekuatan/orang tertentu.

Berbeda dengan partai-partai politik di Indonesia, harus diakui  bahwa pengelolaan atau  manejemen Partai  Golkar  memenuhi tuntutan dan kaidah sebuah partai  modern dengan standar-standar profesionalisme. Ketika partai  lain menyandarkan eksistensi dan  roda  partai  semata-mata pada ketua  umum,  yang lalu  dipuja-puji  bak  dewa, maka  Partai  Golkar  mengandalkan mesin  organisasi yang  solid  dan  tangguh tanpa harus  bergantung  pada ketua  umum.  Tidak ada  pengkultusan ketua  umum  di Partai  Golkar.  Partai  Golkar  juga  tidak  berafiliasi  pada kekuatan atau  pada orang tertentu. Hampir  semua partai  politik di Indonesia  saat  ini berafiliasi pada kekuatan/orang tertentu. Sikap dan garis kebijakan partai  berada satu garis lurus dengan sikap ketua partai.  Mengandalkan  modal,  ketua  umum  bisa  dengan leluasa melakukan apa  saja di partai.   Akibatnya,  banyak  partai  tidak berwatak demokrasi tetapi sebaliknya berwatak oligarki.

Partai  Golkar  memang tidak  lepas   dari  sejarah perjalanan bangsa ini.  Dalam  konteks  sejarah  bangsa itu,  semua warga bangsa ini mengerti seperti apa  peran Golkar  menyelamatkan republik  ini pada masa  pergolakan tahun  1965.  Tanpa  kehadiran Golkar, sulit memastikan seperti apa  nasib  bangsa ini.

Sekarang, sesuai  dengan tuntutan zaman,  Golkar  bermetamorfosis  dan  mereformasi diri menjadi sebuah partai  masa  kini. Warna  ‘masa kini’ nyata  dari  kepengurusan partai  ini yang  jauh dari nepotisme. Integritas moral, kapasitas diri, kompetensi dasar dan  kepribadian yang  prima  menjadi syarat  penting  tak tertulis untuk masuk  dalam  jajaran pengurus partai.

Dengan cara  ini Partai  Golkar langsung atau  tidak  langsung telah memulai  suatu  tonggak baru  dalam  kehidupan berpartai dan memberikan  pendidikan  politik  yang   benar kepada  masyarakat.  Bagi Partai  Golkar,  politik sejatinya bukan hanya  soal kontestasi  dan   kekuasaan semata.  Bagi  Partai  Golkar,  politik terwujud dalam  keseharian   dan  kehidupan sehari-hari.   Politik dan  aktivitas  keseharian  masyarakat tidak  pernah terlepaskan.

Seperti dituturkan Adrian  Leftwich dalam  buku  What  Is Politic? The Activity  and its Study (2004) bahwa politik adalah induk dari semua aktivitas  kolektif, baik publik  maupun privat,  formal atau informal, yang terjadi   di semua lapisan, kelompok  dan lembaga masyarakat.

Sekarang saatnya bagi Partai  Golkar  mengakarkan idiologi partai,  visi-misi keberadaan serta   platform perjuangan partai  ini dalam  nubari  generasi milenial.  Dengan semangat baru, Partai Golkar mesti  segera membangun kesadaran kepada masyarakat dan  terutama generasi milenial  bahwa keterlibatan aktif dalam partai  bersifat niscaya  manakala orang menghendaki perubahan.  Masyarakat mesti  disadarkan bahwa hampir  semua kebijak- an  politik  dan   program pemerintah  sekarang melalui  sebuah proses politik. Proses  ini sangat membutuhkan aktor-aktor politik yang  handal. Di tangan aktor-aktor politik handal inilah visi-misi dan  platform perjuangan Partai  Golkar mampu dibumikan guna menghasilkan perubahan dan  kemajuan yang  digagas bersama.

Dengan semangat ini Partai  Golkar  harus  bisa  membangun keyakinan  dalam  diri siapa  saja,  terutama kaum  milenial,  bahwa keterlibatan  dalam   Partai  Golkar  tidak  semata sebuah pilihan yang  opsional, tetapi sebuah pilihan yang  imperatif.   Hanya dengan  cara inilah Partai Golkar akan selalu tampil  sebagai sebuah partai  yang  semper reformanda (selalu membaharui diri) kapan pun waktunya  dan seperti apa  pun situasinya  menuju partai milenial. (Sumber : Buku Jejak Karya Golkar NTT)


Like it? Share with your friends!

0
admin

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *