Ben Mboi Pengibar Panji Kekaryaan Golkar di NTT


0
Gubernur Ben Mboi (Alm) ketika memantau persawahan di Lembor (Sekarang Manggarai Barat) Didampingi oleh Ibu Nafsiah Mboi, Alm. Saverinus Soewardi (Anggota DPR RI), Ny Frans D Burhan dan Felix Pullu (Ketua Komisi Pembangunan DPRD NTT), tahun 1980-an

Karyantt.com – Ben Mboi tokoh tulen Golkar. Ia bersama Golkar sudah sejak awal kelahiran  partai  itu, 54 tahun  lalu. Malah lebih dari itu. Ben Mboi adalah tokoh  yang membumikan Golkar melalui panji kekaryaannya, terutama di Nusa Tenggara Timur!

Rangkaian  kalimat  lugas  tentang Ben Mboi  itu disampaikan oleh Frans Skera di kediamannya di Kupang, Jumat (23/11/2018). Frans Skera adalah mantan pejabat dan  juga salah  seorang politisi Golkar  NTT  era  1970-1990an, yang  dikenal  dekat dengan Ben  Mboi.  Kedekatannya begitu dalam, antara lain dibuktikan setidaknya  melalui  dua   buku   karya  Frans  Skera  tentang  Ben Mboi.  Buku pertama: Ben  Mboi,  Himpunan Pidato  Pilihan Sela- ma 10 tahun  Menjadi  Gubernur  NTT (terbitan Gita Kasih, 2007), dan  buku  lainnya  Ciri Khas & Warisan  Pemimpin Pemerintahan Propinsi  Nusa  Tenggara Timur  dari El Tari ke  Frans Lebu  Raya (terbitan Gita Kasih, 2017).   Kedua  buku  itu ditulis setelah Frans Skera  yang  mantan anggota DPR RI dua  periode (1987-1997), pensiun dari dinasnya sebagai pegawai negeri sipil, 3 Desember 2003.

Seperti kata  Frans  Skera,  Ben  Mboi  yang  meninggal di Jakarta,  23 Juni  2015  dalam  usia  80 tahun, layak dicatat sebagai salah  seorang tokoh  utama yang  membesarkan Golkar  di NTT. Kiprahnya  terutama melalui  berbagai karya  monumental yang ia torehkan bagi  daerah ini. Ketika menjadi NTT dua periode  (1978-1988), Ben  Mboi  mengawali langkah pengabdiannya  antara lain melalui program Operasi Nusa Makmur (ONM) dan  Operasi Nusa  Hijau (ONH). Kedua  program itu  terinspirasi dari  bencana kelaparan hingga busung lapar  yang  menimpa masyarakat Paga  di Kabupaten Sikka, 1977-1978. Hasilnya  luar biasa.  NTT surpulus jagung tahun  1982.  Keberhasilan 36 tahun lalu itu ditandai kehadiran Presiden Soeharto melakukan panen raya  jagung di  Sikka,  juga  panen raya  padi  sawah  di  Borong Manggarai (kini Manggarai Timur).

Prestasi  lainnya,  tanaman perdagangan  berfungsi ganda (penghijauan) tumbuh meluas. Jambu mete misalnya, belum  ada hasilnya  yang  diekspor tahun  1979.  Namun  10 tahun  kemudian, tercatat NTT mengekspor jambu  mete 15.000 ton.  Begitu  pula kemiri tumbuh secara sporadis di berbagai daerah. Belakangan, kemiri  jadi  salah  satu  andalan  ekonomi keluarga di  NTT,   dengan  catatan produksi yang  dieskpor sekitar  30.000 ton  per  tahun (buku: Ben Mboi, Percikan Pemikiran Menuju Kemandirian Bangsa,  Oktober 2015).

Terkait birokrasi.  Bagi Ben Mboi,   penataan birokrasi  di NTT menyambung  pendahulunya, El Tari, haruslah sekalian  membongkar prasangka suku  dan  agama di  daerah ini. Terobosan yang  dilakukan  antara lain melalui  mutasi  pegawai atau  jabatan secara silang  yang  membaurkan mereka dengan suku dan  agama lain di NTT.

Terobosan ini penting diterapkan di NTT yang mayoritas Katolik dan  Protestan. Alasannya  karena  prasangka suku dan  aga- ma  masih  terasa. Kondisi itu sebenarnya merupakan imbas  dari politik karantina (staatsblad 1913) peninggalan Hindia  Belanda,105 tahun  lalu.

Ben Mboi melalui buku:  Ben Mboi  Memoar Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja (terbitan Kepustakaan  Populer  Grame- dia/KPG,  2011)  mengisahkan, ketika  dirinya  menjadi Gubernur NTT pernah dikunjungi Schuller,  mantan residen terakhir  Belanda  di Timor.  Ketika perihal  politik karantina agama ditanyakan, Schuller   menjelaskan bahwa kebijakan itu semata mata  menjaga  ketenteraman dan  ketertiban masyarakat setempat. Schuller pun mengakui, kebijakan itu bagian dari tujuan penjajahan, yakni agar  sebanyak-banyak mengeruk kekayaan dari  wilayah  ini untuk  dibawa pulang ke  Belanda. Karena  imbasnya masih  terasa sampai sekarang, Ben  Mboi  disarankan agar  secara kreatif  dan persuasif mencari  jalan keluar  mencegah potensi benturan suku dan  agama di NTT tanpa menimbulkan pergesekan yang  mengganggu.

Kembali  ke pencapaian kuantitatif  kepemimpinan Ben Mboi sebagai Gubernur NTT. Masih banyak  contoh monumental lainnya,  di antaranya kehadiran  pabrik  Semen Kupang dan  pabrik seng baja  dek.  Kesemuanya adalah panji kekaryaan Golkar yang dikibarkan  Ben Mboi.

Seperti diakui  Frans  Skera,  Ben  Mboi  pada banyak  kesempatan tak henti-hentinya mengingatkan, agar  Golkar  selalu  mengibarkan panji kekaryaannya. Langkah pengabdian itu terutama ketika  memperjuangkan berbagai  kepentingan seturut aspirasi masyarakatnya. Panji itu adalah kunci yang  mengembuskan Golkar agar  selalu lekat di hati masyarakat hingga partai “kuning” ini meraih  kemenangan signifikan. Oleh karena  itu, ujian bagi Golkar adalah kekaryaan itu sendiri.  Tentu  saja Golkar akan ditinggalkan pendukungnya, kalau kekaryaannya itu surut.

Ben Mboi dan Golkar

Ben   Mboi   adalah  seorang   dokter  berlatarbelakang  militer. Setelah lulus dan  meraih  gelar  dokter dari Universitas  Indonesia di  Jakarta tahun  1961,  putra  kelahiran  Ruteng, Manggarai, 22 Mei 1935  itu langsung bergabung dengan korps  tentara. Jejak awalnya melalui pendidikan khusus berbasis Infantri dan Officier’s vorming (September  1961  – Maret  1962).  Setelahnya dia  ditugaskan mengikuti latihan  terjun  payung di Margahayu dan  Batujajar Bandung hingga meraih   wing parachutist atau   wing penerjun.   Bermodalkan wing  itulah,  Ben  Mboi  akhirnya  bergabung dalam  pasukan perjuangan hingga berhasil merebut Irian Barat (kini Papua)  dari  Hindia  Belanda, 56  tahun  lalu. Perjuangan itu diawali  kisah  heroik  melalui  terjun  payung mendebarkan, pada pagi,  24 Juni 1962  di Merauke.

Berbagai sumber menyebutkan, Ben  Mboi  bergabung de- ngan  Golkar sejak tahun  1964.  Itu berarti sejak Golkar berstatus Sekretariat Bersama atau  Sekber, yang  secara resmi terbentuk di Jakarta pada 20 Okber  1964.  Jejak persentuhannya dengan Golkar antara lain terungkap melalui catatan buku: Ben Mboi Berbicara Tentang Agama, Pemerintahan dan Pembangunan (terbitan Gita Kasih,2009).

Namun   catatan buku  itu  agak  berbeda dengan kisah  Ben Mboi melalui buku:  Ben Mboi  Memoar Seorang Dokter,  Prajurit, Pamong Praja (terbitan Kepustakaan Populer Gramedia, 2011). Intinya, persinggungan Ben Mboi dengan Sekber Golkar dari sisi kelembagaan baru  terjadi  Maret  1966.

Melalui buku  memoar itu pula,  Ben Mboi   mengisahkan dirinya sekitar  Maret  1966  menemui Kolonel  Soedarto di Jakarta. Soedarto adalah mantan Komandan Kontinjen  di Holland,  yang ketika  itu  Wakil Ketua  Kosgoro. Dialah  yang  mendorong Ben Mboi membentuk koperasi nelayan Kosgoro di Ende.

Sekembali ke Flores, Ben Mboi yang dibekali beberapa jaring nilon berukuran panjang 100 meter dan lebar 12 meter, langsung membentuk Koperasi  Nelayan  Kosgoro Ende.  Ia  sendiri sebagai ketuanya. Ternyata melalui jejak koperasi itu, Ben Mboi kemudian dicatat sebagai pelopor yang mengenalkan modernisasi penjalaan ikan menggunakan jaring nilon di NTT.

Kembali ke tiga tahun  sebelumnya. Ben Mboi setelah sukses melalui operasi terjun  payung di  Papua (1962),  ditugaskan di Ende  (1963-1968). Ia ke  Ende  bersama istrinya,  Nafsiah  Mboi, yang  juga dokter. Di Ende,  Ben Mboi sebagai Dankesdim di Ko- dim  Ende  sekaligus Kepala  Dinas  Kesehatan Kabupaten Ende. Selama  periode itulah,  Ben Mboi  juga  menjabat sebagai Ketua Koperasi  Nelayan Kosgoro (Koperasi  Serba   Guna  Gotong  Royong) Ende.  Posisi di koperasi itu sekaligus menegaskan bahwa Ben  Mboi  memang sudah ikut membesarkan Golkar  sejak  berstatus  Sekber.

Agar  lebih  jelas,  Kosgoro adalah satu  dari  sejumlah kelompok  induk  organisasi  atau   kino  sayap   Golkar  sejak  berstatus Sekber. Seturut derap  sejarahnya, Golkar  yang  awalnya  bernama  Sekber Golkar,  kelahirannya atas  prakarsa golongan militer tertutama  kalangan perwira  Angkatan Darat  atau  AD. Agenda perjuangan utama pada awalnya adalah memerangi rong-rongan Partai  Komunis  Indonesia atau  PKI, yang  ketika  itu terasa semakin menggerogoti stabilitas politik di Tanah Air.

Hanya  dalam  waktu  sekejab Sekber Golkar  langsung didukung 61 organisasi golongan fungsional. Lalu dalam  waktu relatif singkat  pula,  jumlah  golongan  fungsional pendukungnya melonjak  mejadi  291  organisasi. Belakangan, hampir  300  organisasi golongan fungsional itu dipadatkan menjadi tujuh kino. Selain Kosgoro, beberapa kino lainnya bernama Sentral  Organisasi Karyawan  Swadiri  Indonesia (Soksi), Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong  (MKGR), dan   Gerakan Karya Rakyat Indonesia (Gakari).

Setelah kurang  lebih lima tahun  di Ende,  Ben Mboi dipindahkan ke Kupang dan menduduki jabatan baru sebagai Dankesrem di Korem  NTT, yang  juga  Kepala  Dinas  Kesehatan NTT (1968-1974). Tugas  Ben  Mboi  bertambah karena  harus  memantapkan persiapan menyongsong pemilu  1971,  yang merupakan pemilu pertama bagi  Golkar. Ketika itu, Ben Mboi dipercayakan sebagai Ketua  Badan  Pemenangan Pemilu  Golkar  NTT. Hasilnya, Golkar langsung keluar sebagai pemenangnya dengan raihan sekitar 60 persen suara.

Karier  politik Ben Mboi  melangkah maju.  Ia diangkat menjadi Ketua Golkar NTT tahun  1974.  Namun  jabatan itu hanya  ku- rang lebih setahun, dan digantikan oleh JN Manafe.  Penggantian dilakukan  karena  Ben  Mboi  pada tahun  1975  ditarik  ke Jakarta mengemban tugas baru  sebagai Kepala  Lembaga Kedokteran Preventif  Jankes Angkatan Darat.  Setelah tiga  tahun  di Jakarta, Ben Mboi kembali lagi ke daerah asalnya.  Kali ini dengan jabatan baru,  sebagai Gubernur NTT selama dua  periode (1978-1988). Ia menggantikan pendahulunya, El Tari, yang  meninggal pada 29 April 1978 akibat  serangan jantung, Selama  10 tahun  sebagai Gubernur NTT, Ben  Mboi  juga  sekaligus Ketua  Dewan  Pertimbangan (Wantim) Golkar NTT.

Meledak – ledak

Ben  Mboi  dikenal   dengan  gaya   kepemimpinan  dan   interak- si yang  meledak-ledak.  Gaya  interaksi  itu  mengendapkan kesan keangkuhan intelektual menempel kuat pada diri Ben MBoi. Oleh  kalangan tertentu,  keangkuhan intelektual itu  dimaklumi karena  Ben Mboi memang memiliki wawasan  pengetahuan amat luas didukung kecerdasan yang luar biasa pula. Melalui Buku Pintar karya Iwan Gayo  (1986), antara lain menyebutkan Ben Mboi termasuk kelompok orang pintar  di Indonesia bahkan dunia.  Di Indonesia, buku itu tergolong best seller. Buktinya, hingga tahun 2013  sudah 45 kali cetak!

Perihal    keangkuhan   intelektual   yang    menempel   pada Ben  Mboi,  menurut Frans  Skera  dan  Yan Do  Tulung,    dimungkinkan  dan  dapat dimaklumi.   Bahkan  Frans  Skera  melukiskan, sudah menjadi ciri khas  Ben  Mboi    kalau  ia merasa biasa  saja bercakar pinggang di depan atasan sekalipun. Tidak hanya  bercakar  pinggang, Ben  Mboi  juga  berani  membantah atasannya. Menurut Frans Skera, sikap yang terkesan angkuh itu merupakan manifestasi dari  tingginya kepercayaan diri seorang Ben  Mboi. Namun  sikap itu, lanjut Frans Skera, berkerabat dekat dengan rasa sombong. Ini dimungkikan karena  Ben Mboi memang memiliki kecerdasan tinggi,  bacaan dan  wawasannya luas.  Referensi bacaannya pun  luas karena  didukung kemahiran sejumlah bahasa asing.  Ben Mboi secara aktif menguasai setidaknya lima baha- sa asing seperti Inggris,  Belanda, Jerman, Perancis  dan Portugis.

Yan Do Tulung yang adalah mantan Sekda  Sumba Timur dan Wakil Ketua  DPRD NTT periode  1977-1982, juga  menggarisbawahi  kecerdasan luar  biasa  Ben  Mboi  tidak  hanya  diakui  di NTT. Selalu saja ada  yang baru setiap kali Ben Mboi berceramah, menyampaikan sambutan atau  kesempatan lainnya.

Yan Do Tulung  bahkan mengisahkan suatu  kesempatan pertemuan para  Sekda  se-Indonesia di Jakarta, sekitar  30-an  tahun lalu, tak sedikit  rekannya itu mengacungkan jempol atas  kepintaran  Ben Mboi. Bagi mereka, Ben Mboi adalah Gubernur terpintar di Indonesia, ketika itu.

“Bagi  saya,  keangkuhan intelektual pada Ben  Mboi  itu hal yang  lumrah  saja karena  orang – orang yang  memiliki kepintaran hebat umumnya bersikap seperti itu,” tutur  Yan Do Tulung  yang jebolan Fakutas  Sospol  UGM Yogakarta (1969).

Ben   Mboi   bersama  istrinya,   Nafsiah   Mboi   tahun    1986 mendapat penghargaan Ramon  Magsaysay untuk  kategori pelayanan   pemerintahan.  Penghargaan  yang   juga   disebut  Nobel   Prize Asia,   dimulai  sejak  tahun  1958.  Khusus di Indonesia, hingga tahun  1986  itu baru  dua  gubernur yang  berhasil meraih penghargaan bergengsi itu. Sebelumnya adalah Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, tahun  1971.

Selain Ramon Magsaysay, Ben Mboi memperoleh penghargaan dari  dalam   negeri.  Penghargaan itu  berupa Bintang Maha  Putra  untuk  dedikasi dan  program Ben  Mboi  yang  dise- but Panca  Warsa Benah  Desa.  Sejumlah  penghargaan itu adalah bukti  kehebatan Ben Mboi  melalui  berbagai programnya yang pro  rakyat.  Penghargaan itu  tentu saja  sekalian  menjadi panji kekaryaan Golkar. (Sumber : Buku Jejak Karya Golkar NTT)


Like it? Share with your friends!

0
admin

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *