Ayo Memilih ! Golput Bukan Solusi Untuk Negeri


0

Karyantt.com – Pemilu serentak sudah di ambang pintu, dalam hitungan jam hajatan besar negeri ini akan memastikan siapa nahkoda kapal besar Indonesia untuk lima tahun ke depan. Termasuk di dalamnya adalah memilih wakil rakyat dalam pemilihan legislatif. Pemilu 2019 ini hampir sepenuhnya menguras perhatian dan fokus pembicaraan seluruh warga bangsa akhir-akhir ini.

Namun toh demikian tingginya perhatian masyarakat tidak serta merta menjamin kesediaan para pemilih menggunakan hak berpolitik untuk memilih (baca: mencoblos). Cukup banyak pengamat memprediksi Pemilu tahun ini masih disertai ancaman jumlah golput yang tinggi. Belakangan ini muncul suara-suara bernada apatis dan keinginan untuk golput alias tidak gunakan hak pilih para Pileg 2019 dan Pilpres 2019. Meskipun tidak sedikit yang mengajak agar jangan golput.

Dinamika golput dari Pilpres tahun 2009 adalah 28,3%, tahun 2014 menurun menjadi 24,8%, prediksi untuk tahun 2019 adalah sejumlah 20% partisipan pemilih akan ada di kelompok ini. Cukup tinggi memang meski diperkirakan menurun dari periode sebelumnya.

Seiring majunya demokrasi di Indonesia, angka golput terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Golput yang pada mulanya adalah gerakan protes yang berdiri sendiri di kalangan masyarakat yang kritis, kini telah menjelma menyatu ke dalam berbagai gerakan yang bertujuan memperbaiki dan mencari alternatif dalam rangka penyempurnaan sistem politik Indonesia yang berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi universal.

Secara umum, masyarakat memilih golput dikarenakan beberapa faktor, yakni  faktor psikologis (kekecewaan pada elit politik), faktor administratif, dan faktor liberalisasi politik. Diantara ketiga faktor tersebut, faktor psikologislah yang baling banyak ditemui dilapangan.

Mayoritas masyarakat berpendapat hampir semua elit politik tidak bisa menyalurkan aspirasi masyarakat. Mereka hanya disibukkan dengan proyek-proyek mereka untuk memperoleh keuntungan demi mengembalikan modal saat kampanye. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya elit politik yang terjerat hukum akibat kasus korupsi. Hal ini semakin membuat simpatisan golput menampakkan dirinya, bahkan tidak segan-segan mengajak masyarakat untuk memboikot pemilu karena pemilu merupakan alat “tangan-tangan kotor” untuk menjarah masyarakat.  Simpatisan golput menilai dengan melakukan golput, maka kita turut berpartisipasi mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

Di era demokrasi, semua orang memang diberi kebebasan untuk bersuara, kebebasan untuk memilih dalam pemilu tanpa ada paksaan dari pihak manapun, termasuk memilih untuk tidak memilih (golput). Namun, apakah golput merupakan jalan keluar permasalahan yang menimpa bangsa kita?? Apakah masalah demokrasi harus diselesaikan dengan golput?

Tidak! Untuk menyelesaikan masalah politik dan demokrasi di negeri kita ini tidak harus dilakukan dengan golput karena perlu diingat pemilu bisa terlaksana akibat uang rakyat yang diambil dari APBD/APBN untuk pengadaan kotak suara, kartu pemilih, bayar petugas KPPS, Banwaslu.  Oleh karena itu, dana yang sudah banyak dikeluarkan ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh setiap warga negara dengan cara berpartisipasi dalam pemilu. Selain itu, dengan melakukan  golput artinya masyarakat Indonesia tidak mengharigai perjuangan demokrasi di nusantara. Hal ini dikarenakan dulu masyarakat memprotes pilpres hanya dilakukan oleh DPR sebagai wakil rakyat dengan alasan tidak demokratis dan menuntut bisa menyalurkan hak suaranya sebagai warga negara.

Golput juga tidak akan bisa membuat perpolitikan Indonesia menjadi lebih baik, pasalnya sebanyak apapun masyarakat yang golput tidak akan mempengaruhi  jalannya pemerintahan.  Masyarakat harus sadar bahwa golput bisa juga menjadi ancaman karena sekuat apapun golput pemerintahan akan tetap berjalan  bahkan jika hanya ada 1 orang di Indonesia ini yang mencoblos.

Nasib bangsa dan negara ini sangat tergantung kepada anggota legislatif dan Presiden, dan Presiden terpilih sangat tergantung kepada rakyat sebagai individu yang akan menentukan siapa yang akan memimpin kedepan. Oleh karena itu jika rakyat ingin memperoleh pemimpin terbaik, maka rakyat harus menggunakan hak pilih agar kedaulatan yang dimiliki tidak sia-sia. Golput hanyalah pilihan bagi masyarakat apatis yang tidak memiliki sikap, pilihan bagi masyarakat yang ragu akan perubahan.

Kalau kamu tidak gunakan hak pilih, banyak kerugian yang mungkin terjadi, seperti:

1. Memberi Peluang Politisi Busuk

Satu suara kamu sangat berarti. Bayangkan di luar sana ada politisi baik yang berjuang dengan cara sehat untuk mendapatkan suara. Sementara di sisi lain ada politisi busuk yang gunakan cara-cara jahat seperti money politics atau black campaign dengan menyebar hoax, fitnah, atau kabar burung. Peluang politisi jahat untuk memenangkan pertarungan menjadi lebih besar jika kamu gak gunakan suaramu. Pastikan suaramu diberikan kepada kandidat yang baik agar peluang mereka menang semakin besar.

2. Dia Lagi Dia Lagi

Para politisi yang sekarang duduk di pemerintahan maupun lembaga legislatif tentu sudah terlihat kinerjanya. Siapa yang benar-benar bekerja untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat dan siapa yang memanfaatkan jabatannya saja. Siapa yang berkinerja baik, pilih lagi. Tapi kalau gagal, butuh wajah segar yang punya rekam jejak bersih dan berintegritas untuk menggantikan mereka. Jangan sampai yang duduk lagi justru politisi-politisi yang berkinerja buruk. Makanya jangan golput!

3. Ganti Pejabat Ganti Kebijakan

Penyakit lama yang sering terdengar di kalangan awam adalah setiap ada pergantian pejabat juga diikuti dengan kebijakan baru. Andai kebijakan baru lebih progresif dan menghasilkan kinerja jauh lebih baik harus disyukuri. Tapi kalau kebijakan baru justru letoy, yang rugi adalah semua orang. Pastikan suara kamu diberikan kepada kandidat yang mau meneruskan program-program yang sudah berjalan dalam jalur yang benar dan bisa melakukan improvisasi agar hasilnya lebih baik, lebih cepat, dan lebih tepat sasaran.

4. Miskin Terobosan

Semua kandidat dalam pemilu pasti menjanjikan program-program yang cita-citanya setinggi langit sebagai cara yakinkan pemilih. Tapi jangan terbuai dengan janji. Cek lagi strategi apa yang akan mereka tempuh untuk mencapai target-target tersebut agar tidak hanya manis di mulut saja tapi juga harus kuat di esensi. Pilih kandidat yang punya terobosan dan inovasi dalam membuat kebijakan.

5. Kecolongan

Jangan sampai kamu gigit jari kalau ternyata nanti yang menang adalah kandidat yang punya rekam jejak buruk, pakai politik kotor, dan tak berkinerja baik. Bukan tidak mungkin mantan pelaku kriminal tetap bisa duduk di jabatan-jabatan politik karena kita membiarkannya.

Sudah banyak pelajaran yang diambil dari kemenangan Donald Trump dalam pemilu di Amerika Serikat karena kampanye menggunakan hoax, kemenangan Brexit dalam referendum yang kini membuat Inggris terkatung-katung, atau kemenangan politisi ultrakanan Jair Bolsonaro di Brasil.

Kecenderungan yang serupa sedang terjadi di Indonesia. Provokasi lewat hoax dan black campaign digunakan sebagai alat politik yang disebar melalui media sosial dan WhatsApp sehingga tak sedikit orang yang terpengaruh.

Jadi, kita memang harus berpartisipasi dalam pemilu dan jangan golput. Paling tidak gunakan hak pilih kita. Manfaatkan sebaik mungkin pilihan di bilik suara agar yang duduk di kursi pemerintahan dan anggota DPR adalah orang-orang terbaik.

Memilih memang cuma hak, bukan kewajiban, tapi jangan sampe hak pilih ini tidak dipakai sama kita atau jadi golput. Dampak kedepannya pasti kita juga yang akan rugi. Tidak sampe disitu, memilih juga merupakan bentuk kontribusi kita dalam perwujudan negara yang berdemokrasi, dimana segala dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Karena kita bagian dari rakyat, maka rakyat yang memilih dan rakyat yang menentukan. Memilih merupakan indikator masyarakat yang cerdas dan aktif, serta memiliki tanggung jawab dan kepedulian terhadap kemajuan bangsanya. Karena kemajuan bangsa ini terletak pada kebijakan-kebijakan yang bermuara dari para penjabat dan elite politik bangsa ini,

Tapi ini hanya bisa terjadi jika semua orang punya niat yang sama yakni memilih yang terbaik untuk kemajuan bangsa. Bayangkan kalau setiap orang tidak peduli pilihan mereka apalagi tidak memilih? So, jangan golput ya!. Mari gunakan hak pilih kita dalam pemilu guna demi perbaikan bangsa dan negara. (Redaksi)


Like it? Share with your friends!

0
admin

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *